Dobrak Tradisi Lama, Dokter Asal Klaten Kenalkan Tanam Maju ke Petani Sragen

Dobrak Tradisi Lama, Dokter Asal Klaten Kenalkan Tanam Maju ke Petani Sragen
Para sarjana ISEI bersama PPL dan buruh tanam mempraktikan teknik tanam maju yang digagas dr. Avi di areal sawah Dukuh Mayah, Desa Bendo, Sukodono, Sragen, Sabtu (27/6/2026).

Mataraminsight.com, SRAGEN — Menanam dengan teknik berjalan mundur sudah lazim dilakukan para petani di wilayah Kabupaten Sragen. Teknik tanam mundur (tandur) dianggap tradisional dan membutuhkan cukup banyak tenaga kerja. Para petani di Dukuh Mayah, Desa Bendo, Kecamatan Sukodono, Sragen, berani mengubah teknik menanam bibit padi bukan dengan cara tandur tetapi dengan cara menanam berjalan maju atau tanam maju (taju).

Teknik tanam maju tersebut ternyata dikenalkan seorang dokter lulusan Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta asal Klaten, Andreas Philip Avianto Wicaksono, yang sering disapa dr. Avi. Teknik tanam tersebut ternyata bisa menghemat waktu 30 menit lebih cepat dan meminimalisasi jumlah tenaga kerja tanam di tengah situasi kian berkurangnya tenaga kerja tanam padi.

Anggota Kelompok Tani Sasmita Tani Dukuh Mayah, Desa Bendo, Sukodono, Sragen, Ngadiyanto, 58, mempraktikan menanam padi dengan tanam maju di area sawah satu kedok. Ada tiga orang buruh tanam yang menanam padi tanpa harus menggunakan alat pola dari bambu agar jarak tanam terukur. Tiga buruh tanam menanam dengan berjalan maju bukan berjalan mundur. Mereka tinggal mengikuti garis kotak-kotak yang sebelumnya sudah dibuatkan dengan jarak tanam yang sama 22 cm.

“Ini baru kali pertama mencoba menanam maju. Ide menanam maju ini dari Pak dokter Avi. Sebelumnya saya belum tahu. Kalau dibandingkan dengan tanam mundur, cara tanam maju ini lebih cepat. Untuk tanam mundur pada sawah seluas 1.000 meter persegi membutuhkan waktu 3 jam dengan tiga orang tenaga tanam. Dengan tanam maju dan melibatkan tiga orang tenaga tanam hanya bisa dilaksanakn 2,5 jam. Jadi lebih mempercepat waktu 30 menit,” ujar dia saat ditemui Espos, Sabtu (27/6/2026).

Dia menerangkan tenaga tanam itu tergantung pada luas lahannya. Dia mengatakan untuk lahan 1.000 meter persegi cukup dengan tiga orang tenaga tanam. Dia menjelaskan dengan tanam maju mau dipakai system jajar legawa pun bisa karena tinggal mengatur jarak tanamnya saja.

“Kami belum tahu modal tanam maju ini akan berdampak pada produktivitas padi atau tidak. Kalau saya yang mempengaruhi ya penggunaan pupuknya, bukan cara tanamnya,” jelas dia.

Sementara itu, dr. Avi mengenalkan teknik menanam maju kepada para sarjana dari Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) yang sengaja didatangkan ke Sragen. Para penyuluh pertanian lapangan (PPL) se-Kecamatan Sukodono pun turut serta menyaksikan inovasi cara tanam padi tersebut. Bahkan Camat Sukodono dan Wakil Bupati (Wabup) turun hadir dalam acara tersebut.

Avi menjelaskan para petani yang tergabung dalam Poktan Sasmita Tani Dukuh Mayah, Bendo, merupakan petani binaan Pusat Kesehatan Tanah dan Tanaman (Puskestan) buatannya. Avi menyampaikan ada 3.400 poktan se-Soloraya yang menjadi binaan Puskestan dan khusus di Sragen ada 500 poktan, salah satunya poktan di Desa Bendo tersebut.

“Puskestan memang berkolaborasi dengan banyak pihak, termasuk dengan penyedia jasa tanam. Terkadang para petani memang kesulitan mencari tenaga tanam saat musim tanam. Nah, kami dari Puskestan memberi pendampingan dengan pengenalan pupuk kompos organik sekaligus mengenalkan tekni tanam maju,” jelas Avi saat ditemui Espos di Bendo, Sragen, Sabtu siang.

Avi menyampaikan untuk kebutuhan tanaga tanam, Puskestan bekerjasama dengan poktan di Polanharjo, Klaten. Dia menjelaskan tanam maju ini cukup inovatif karena kalau Teknik tanam mundur membutuhkan feeling atau perasaan untuk mengira-ira jarak tanam. Dengan tanam maju, jelas dia, buruh tanam tinggal mengikuti pertemuan garis dalam pola tanam yang sudah disiapkan.

“Jadi buruh tani mengikuti garis pandu yang dibuat sebelumnya. Teknik tanam ini sengaja saya sebarluaskan kepada petani agar menjadi daya Tarik bagi kalangan anak-anak muda supaya tidak takut untuk bertani. Dengan tanam maju lebih menghemat waktu dan tenaga sampai 30%. Tanam maju itu tidak berpengaruh pada hasil panen karena hasil panen dipengaruhi oleh teknih budidayanya, salah satunya menggunakan pupuk kompos dari Puskestan,” jelas dia.

Leave a Reply