Sragen Berstatus Awas Kekeringan, Krisis Air Bersih Meluas di 5 Kecamatan

Sragen Berstatus Awas Kekeringan, Krisis Air Bersih Meluas di 5 Kecamatan
Bupati Sragen Sigit Pamungkas bersama Kepala Pelaksana BPBD Sragen R Triyono Putro menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah Desa Bagor, Miri, Sragen, Jumat (21/8/2026). (Istimewa/BPBD Sragen)

Mataraminsight.com, SRAGEN — Jumlah wilayah yang terdampak kekeringan dan krisis air bersih di wilayah Kabupaten Sragen meluas. Awalnya dampak El Nino hanya di dua kecamatan, namun kini meluas menjadi lima kecamatan. Apalagi Sragen masuk dalam daerah dengan status awas kekeringan meteorologis menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). 

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen, R Triyono Putro, kepada Espos, Senin (24/8/2026), mengungkapkan berdasarkan rekapitulasi per 23 Agustus 2026 lalu, sebaran desa yang mengalami krisis air bersih di lima kecamatan, yaitu Gesi, Tangen, Mondokan, Jenar, dan Miri. 

Dia menyebut di wilayah Kecamatan Gesi, kebutuhan air bersih dirasakan warga di Dukuh Grengseng, Bendorejo, dan Ngreco di Desa Poleng dan Dukuh Padas Desa Srawung. Kemudian di wilayah Kecamatan Tangen, permintaan air bersih datang dari Desa Galeh (empat dukuh); Desa Ngrombo; Desa Jekawal; Desa Sigit; dan Desa Denanyar. 

Dia melanjutkan di wilayah Kecamatan Mondokan ada Dukuh Jurang, Desa Sono. Wilayah Kecamatan Jenar, sebut dia, ada sembilan dukuh di Desa Banyurip yang membutuhkan air bersih. Lalu di wilayah Kecamatan Miri, ada Desa Gilirejo Baru dan Bagor yang kekurangan air bersih. 

“Hingga 23 Agustus lalu, BPBD sudah mengirimkan bantuan air bersih sebanyak 173 tangki ke lima wilayah kecamatan tersebut, tepatnya di 26 dukuh yang menyebar di 11 desa dengan jumlah penduduk sebanyak 2.234 keluarga. Data tersebut merupakan akumulasi sejak Juli-Agustus 2026,” jelas Triyono. 

173 Tangki Sudah Terpakai

Dia menyatakan pada Senin ini, ada dua desa yang membutuhkan air bersih dan segera dikirimi, yaitu di Desa Poleng Gesi dan Desa Banyurip. Dia menjadwalkan pengiriman sembilan tangki air bersih ke dua desa itu dengan kapasitas tandon air bervariasi antara 1.000-7.000 liter. 

“Setiap hari memang dijadwalkan sembilan tangki. Selama ini masih mengandalkan anggaran dari APBD karena belum ada bantuan dari paguyuban atau komunitas masyarakat yang peduli bantuan air bersih. Anggaran dari APBD masih cukup hingga November 2026 mendatang,” jelas Triyono. 

Triyono menyatakan alokasi anggaran dari APBD cukup untuk 500 tangki dan hingga Minggu (23/8/2026) sudah terpakai sebanyak 173 tangki sehingga sisanya masih memadai. Dia menyampaikan pada Jumat lalu, Bupati Sragen Sigit Pamungkas turut serta menyerahkan bantuan air bersih kepada warga di Dukuh Cabe, Desa Bagor, Miri. 

Di sisi lain, Triyono juga berkoordinasi dengan Forum Pimpinan Daerah dan stakeholders terkait untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dia juga menyiapkan armada khusus untuk membantu pemadaman api jika sewaktu-waktu terjadi karhutla.

“Satu mobil kami siapkan dan sudah dimodifikasi untuk fungsi penanganan karhutla. Selama ini satu unit mobil sudah berjalan baik dan bergabung dengan tim dari Pemadam Kebakaran [Damkar] Satpol PP Sragen,” jelas dia. 

Leave a Reply