Pedagang Berharap Pembangunan Kembali Pasar Slogohimo Wonogiri Segera Selesai

Pedagang Berharap Pembangunan Kembali Pasar Slogohimo Wonogiri Segera Selesai
Situasi kios-kios di pasar darurat Pasar Slogohimo, Wonogiri, Senin (24/8/2026). (Daerah/Ahmad Kurnia Sidik)

Mataraminsight.com, WONOGIRI – Para pedagang Pasar Slogohimo menggantungkan harapan besar pada pembangunan kembali pasar tradisional di Kecamatan Slogohimo, Wonogiri, yang dimulai pada Senin (24/8/2026) itu. Pascakebakaran pada 2023 lalu, mereka berjualan di kios-kios darurat dan penghasilan mereka berkurang signifikan.

Kondisi lapak sementara yang serbaterbatas dan penurunan penghasilan harian juga menjadi alasan para pedagang mendesak percepatan penyelesaian bangunan baru tersebut. Hal itu disampaikan oleh salah satunya, Marsih, 64, yang telah berdagang di Pasar Slogohimo sejak 1990-an. 

Kepada Espos, Marsih yang berdagang sayur dan buah itu menuturkan sejak berdagang di pasar darurat yang lokasinya berada di depan Pasar Slogohimo, Wonogiri, jumlah pembelinya turun signifikan. 

“Di sini itu jauh dari parkir, sementara pedagang yang jualannya sama seperti saya semua berjualan di sekitar parkir di bawah sana. Jadi sulit dapat pembeli dan kebutuhan mereka sudah didapat di pedagang yang dekat lokasi parkir itu,” kata dia sambil menunjuk ke arah barat Pasar Slogohimo.

Keuntungan Harian Anjlok

Marsih pun menjelaskan yang biasanya mendapat keuntungan penghasilan harian sekitar Rp100.000, sejak tiga tahun berada di pasar darurat ia hanya mampu mengantongi keuntungan harian sekitar Rp25.000.

“Itu pun sulit. Harus buka lebih lama. Kalau dulu di pasar saya biasa buka setelah subuh dan sampai zuhur sudah habis. Tapi sekarang harus lebih lama, bahkan sampai sebelum Magrib,” jelasnya. 

Karena itu, dengan dimulainya revitalisasi tersebut, ia berharap berjalan dengan lancar dan segera selesai sehingga bisa digunakan kembali oleh para pedagang. “Kalau bisa ya akhir tahun selesai dan kami bisa jualan di situ lagi saat puasa [Ramadan] dan Hari Raya [Idulfitri]. Penghasilan kami bisa normal lagi,” kata dia. 

Hal senada disampaikan oleh pedagang bumbu masakan, Isfiani, 54. Ia juga berharap agar bangunan Pasar Slogohimo yang baru bisa segera selesai pembangunannya dan digunakan oleh pedagang. Karena selama di pasar darurat tersebut ia juga mengalami penurunan keuntungan penghasilan yang signifikan.

“Saya juga harus mengurangi jenis jualan. Karena sulitnya pembeli di pasar darurat ini jadi banyak bahan yang tidak laku dan basi. Seiring waktu saya mengurangi jenis dagangan jadi bahan-bahan yang tahan lama. Ya semoga cepat selesai dan bisa segera menggunakan gedung pasar baru,” kata dia kepada Espos. 

Sebelumnya, Lurah Pasar Slogohimo, Juwit Winarno, menyampaikan para pedagang menempati dua lokasi pasar darurat selama proses pembangunan kembali pasar itu berlangsung. “Sebagian pedagang menempati area depan pasar, sementara sebagian lainnya berada di kawasan belakang, tepatnya di bekas terminal bongkar muat,” ujar Juwit saat ditemui Espos di lokasi proyek revitalisasi.

Data Pedagang

Menurut data pengelolaan pasar, lanjut dia, terdapat sedikitnya 515 pedagang yang terdampak kebakaran dan kini beraktivitas di pasar darurat. Jumlah tersebut terdiri dari 421 pedagang los serta 94 pedagang kios yang terdaftar. Selama masa transisi ini, aktivitas perdagangan tetap berjalan meskipun dalam kondisi serbaterbatas.

Juwit menjelaskan proyek revitalisasi Pasar Slogohimo bakal berlangsung selama 144 hari kalender dengan nilai anggaran mencapai Rp14,4 miliar. Proyek ini ditargetkan rampung sepenuhnya pada 29 Desember 2026.

Pasar Slogohimo nantinya dibangun menjadi satu lantai, sesuai dengan aspirasi dan kesepakatan awal para pedagang yang enggan dipindahkan ke bangunan bertingkat. Langkah ini diambil untuk memastikan kemudahan aksesibilitas pembeli sehingga aktivitas ekonomi pasar tradisional bisa langsung menggeliat pascarevitalisasi. 

Kepada Espos, ia juga menerangkan untuk penataan pedagang akan dibagi menjadi tiga klaster, yakni kebutuhan sekunder menempati bagian depan, di bagian tengah ada kebutuhan primer, dan bagian belakang ada daging dan sejenisnya. Langkah ini diambil dengan dasar memperhitungkan kebutuhan pembeli, pedagang, dan lingkungan yang bersih. 

“Kalau kebutuhan primer ditaruh di depan, nanti kebutuhan sekunder tidak ada pembelinya karena pembeli sudah dapat apa yang dibutuhkan. Karena itu ditaruh di tengah agar saat menuju ke sana, pembeli dapat melihat barang dagangan sekunder. Begitu pun dengan daging, karena kebutuhan saluran air dan kebersihan ditaruh di belakang pasar,” jelasnya.

Leave a Reply